Inspirasi Akhir Juli: Juni-Juli Seratus K Perhari, Airy Dan Wanprestasi

Gatal yang mulai terasa menyerang kulit seluruh area celana slim fit, aroma tidak sedap yang keluar dari badan dipadu rasa lengket leher dengan kaos oblong ketat, bisingnya fan CPU Desktop dengan sensasi mengetik prosesor AMD Athlon x2 240, ditambah loud speaker operator yang memutar Film Laga Asia tentu tidak sebanding dengan kenikmatan menyesap Goodday anyep berwadah gelas plastik ala air mineral kemasan 250ml, sekali lagi: sangat merakyat

Benar-benar Proletar, sangat Marhaenis. Keputusan saya mengumbar apa yang saya rasa ke dalam blog ini adalah sebuah perlawanan, ya perlawanan. Menulis adalah melawan, self-healing, mengikat kenangan, sukur bila ada yang beranggapan ini adalah ilmu.

Jadi, sejak 14 Juni lalu saya sudah meninggalkan Bekasi dengan niat awal untuk segera ke Bayadi dan memperisapkan sambutan terbaik untuk Peserta Didik Baru, agar mereka nyaman dan bisa berkembang dengan sebaik-baik proses pengajaran. qadarullah, hobi saya yang transit dulu di persinggahan (sekedar charging + WIFI macroAd) mengantarkan saya kepada online hotel management : Airy.

Apalah daya, nyamannya hidup sebagai diri sendiri (BACA:indekost) yang tidak pernah saya rasakan hingga usia 25 tahun akhirnya saya gunakan. Dasar, begitu mengetahui ada promo potongan harga 50% hingga maks. 50k akhirnya saya menghabiskan nyaris satu setengah bulan untuk membuat Airy (dan Zenrooms) kaya. Terkutuklah kapitails, K A P I T A L I S dan segala strategi marketingnya.

2019 Paruh kedua adalah masa-masa enteng pikir bagi saya. Gaji yang sudah saya sisihkan untuk menghalalkan apa yang masih haram justru saya gunakan untuk membeli pengalaman, benar sungguh sialan kutipan,”Pengalaman lebih berharga daripada barang.” Tapi setidaknya saya tahu, Backpacker perlu menghabiskan 150 ribu Rupiah untuk melepas lelah semalam. Dengan fasilitas penginapan: AC, Air hangat, air mineral, dan Kasur nyaman.

Ramadhan 2019 dalah kali pertama saya merasakan THR kerja, bukan beasiswa atau tunjangan orangtua. Tidak cerdasnya saya justru mengalokasikannya untuk akomodasi premium yang sebenarnya bisa dikondisikan di asrama dengan rupiah lebih tipis dibiaya. Padahal, saya sudah memiliki kebutuhan gawai baru dengan kamera baik untuk dokumentasi kegiatan belajar mengajar di Bayadi. Naas, rupiah tewas begitu saja. Simpulan yang saya ambil setelah habis nyaris lima juta adalah bahwa saya benci suhu panas, segan dan cenderung menghindarinya.

Chart yang tadinya hanya berisi: Setrika ,Chek Up Klinik ( Karang gigi, Operasi Kecil, Perawatan Kulit), Busana layak untuk kerja, Cermin, gawai baru. kini menjadi : Makan(Warteg, Mini market),Transport (KRL, Grab),Akomodasi Airy, Zenrooms). Uang yang biasanya bisadipakai dalam sepekan-dua minggu bahkan, mendadak menjadi habis dalam sehari.

Tinggalkan Balasan